Jumat, 24 April 2015

[045] Al Jaatsiyah Ayat 009

««•»»
Surah Al Jaatsiyah 9

وَإِذَا عَلِمَ مِنْ آيَاتِنَا شَيْئًا اتَّخَذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ
««•»»
wa-idzaa 'alima min aayaatinaa syay-an ittakhadzahaa huzuwan ulaa-ika lahum 'adzaabun muhiinun
««•»»

Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. Merekalah {1383} yang memperoleh azab yang menghinakan.
{1383}  Maksudnya: orang-orang yang banyak berdusta dan berdosa yang tersebut dalam ayat 7 di atas.
««•»»
Should he learn anything about Our signs, he takes them in derision. For such there is a humiliating punishment.
««•»»

Dalam ayat ini diterangkan sikap yang lain dari orang musyrik Quraisy sewaktu mendengar ayat-ayat Alquran di sampaikan kepada mereka. Apabila ada di antara kawan-kawan mereka yang menyampaikan berita tentang ayat-aya Alquran, mereka pun memperolok-olokkan ayat-ayat itu.

Diriwayatkan bahwa ketika Abu Jahal mendengar firman Allah,
إِنَّ شَجَرَةَ الزَّقُّومِ طَعَامُ الْأَثِيمِ
Sesungguhnya pohon zaqqum itu makanan orang yang banyak berdosa.
(QS. Ad Dukhaan [44]:43-44)

Ia meminta kurma dan keju, seraya berkata kepada kawan-kawannya, "Makanlah buah zaqqum ini, yang diancamkan Muhammad kepadamu itu tidak lain adalah makanan yang manisnya seperti madu",

Dan ketika ia mendengar firman Allah:
عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ
Di antara neraka (terdapat) sembilan belas (penjaga)
(QS. Al Muddassir [74]:30)

Abu Jahal berkata: Kalau penjaganya hanya sembilan belas, maka saya sendiri akan melemparkan mereka itu. Banyak lagi cara-cara dan sikap lain yang bernada menghina dari orang-orang kafir Quraisy pada waktu mereka mendengar bacaan Alquran. Karena mereka selalu mendustakan ayat-ayat Allah dan memperolok-olokkannya, maka dalam ayat ini Allah SWT menegaskan balasan yang akan mereka terima nanti di akhirat. Mereka akan dimasukkan ke dalam neraka yang menghinakan dan menyiksa mereka sebagai balasan dari sikap dan perbuatan mereka itu.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dan apabila dia mengetahui tentang ayat-ayat Kami) yakni Alquran (barang sedikit, maka ayat-ayat itu dijadikannya olok-olok) yakni menjadi bahan ejekan mereka. (Merekalah) orang-orang yang banyak mendustakan ayat-ayat Kami itu (yang memperoleh azab yang menghinakan) artinya, siksaan yang mengandung kehinaan.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
[AYAT 8][AYAT 10]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
9of37
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=45&tAyahNo=9&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2http://al-quran.info/#45:9

[045] Al Jaatsiyah Ayat 008

««•»»
Surah Al Jaatsiyah 8

يَسْمَعُ آيَاتِ اللَّهِ تُتْلَى عَلَيْهِ ثُمَّ يُصِرُّ مُسْتَكْبِرًا كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
««•»»
yasma'u aayaati allaahi tutlaa 'alayhi tsumma yushirru mustakbiran ka-an lam yasma'haa fabasysyirhu bi'adzaabin aliimin
««•»»
Dia mendengar ayat-ayat Allah dibacakan kepadanya kemudian dia tetap menyombongkan diri seakan-akan dia tidak mendengarnya. Maka beri khabar gembiralah dia dengan azab yang pedih.
««•»»
who hears the signs of Allah being recited to him, yet persists disdainfully, as if he had not heard them. So inform him of a painful punishment.
««•»»

Kemudian Allah SWT mengancam kaum musyrikin yang selalu mengingkari kebenaran ayat-ayat Alquran dengan ancaman yang sangat mengerikan. Mereka tetap mendustakan kebenaran ayat-ayat Alquran, padahal di dalamnya terdapat keterangan tentang dalil-dalil dan bukti-bukti keesaan dan kekuasaan-Nya yang cukup jelas. Bukti dan keterangan itu telah mereka dengar sendiri. Menurut ukuran yang wajar, tentu mereka telah memahaminya. Akan tetapi, yang terjadi adalah sebaliknya. Itulah sebabnya mereka disebut dalam ayat ini orang-orang yang banyak berdusta dan banyak melakukan perbuatan dosa.

Selanjutnya diterangkan bahwa keadaan orang-orang musyrik sebelum dan sesudah mendengar ayat-ayat Alquran sama saja; tidak ada perubahan dalam sikap dan tindak-tanduk mereka, bahkan mereka bertambah ingkar dan menyombongkan diri. Itulah sebabnya dalam ayat ini mereka dikatakan seolah olah tidak pernah mendengar ayat-ayat Alquran yang disampaikan kepada mereka. Dalam ayat yang lain, diterangkan bahwa mereka sendiri mengakui tidak pernah merasa mendengar Alquran yang disampaikan kepada mereka.

Allah SWT berfirman:
وَقَالُوا قُلُوبُنَا فِي أَكِنَّةٍ مِمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ وَفِي آذَانِنَا وَقْرٌ وَمِنْ بَيْنِنَا وَبَيْنِكَ حِجَابٌ فَاعْمَلْ إِنَّنَا عَامِلُونَ
Mereka berkata: "Hati kami berada dalam tutupan (yang menutup)apa yang kamu serukannya kepada kami dan telinga kami ada sumbatan, dan antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja (pula).
(QS. Fushshilaat [41]:5)

dan firman-Nya:
وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِي ءَاذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى أُولَئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ
Dan orang-orang yang tidak beriman, pada telinga mereka ada sumbatan, sedangkan Alquran itu suatu kegelapan bagi mereka.
(QS. Fushshilaat [41]:44)

Pada akhir ayat ini, Allah SWT memerintahkan kepada Rasul-Nya menyampaikan kabar gembira kepada mereka bahwa mereka akan memperoleh azab yang pedih di neraka nanti. Dalam ayat ini, disebutkan bahwa memberitakan adanya azab yang pedih merupakan suatu berita gembira, bukan suatu berita duka. Ungkapan ini sengaja dibuat demikian untuk membalas sikap mereka yang memperolok-olokkan ayat-ayat Alquran yang disampaikan kepadanya dan untuk menunjukkan bahwa sikap mereka itu merupakan sikap yang sudah melampaui batas. Karena itu, yang dimaksud dengan kabar gembira di sini ialah lawan daripada kabar gembira itu, yaitu kabar sedih.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dia mendengar ayat-ayat Allah) yakni Alquran (dibacakan kepadanya kemudian dia tetap) atas kekafirannya (menyombongkan diri) takabur tidak mau beriman (seakan-akan dia tidak mendengarnya. Maka beri kabar gembiralah dia dengan azab yang pedih) azab yang menyakitkan.
««•»»
who hears the signs of God, the Qur’ān, being recited to him, then persists, in his disbelief, arrogantly, disdainful of faith, as if he had not heard them. So give him tidings of a painful chastisement.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 7][AYAT 9]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
8of37
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=45&tAyahNo=8&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2http://al-quran.info/#45:8

[045] Al Jaatsiyah Ayat 007

««•»»
Surah Al Jaatsiyah 7

وَيْلٌ لِكُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ
««•»»
waylun likulli affaakin atsiimin
««•»»
Kecelakaan besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa,
««•»»
Woe to every sinful liar,
««•»»

Kemudian Allah SWT mengancam kaum musyrikin yang selalu mengingkari kebenaran ayat-ayat Alquran dengan ancaman yang sangat mengerikan. Mereka tetap mendustakan kebenaran ayat-ayat Alquran, padahal di dalamnya terdapat keterangan tentang dalil-dalil dan bukti-bukti keesaan dan kekuasaan-Nya yang cukup jelas. Bukti dan keterangan itu telah mereka dengar sendiri. Menurut ukuran yang wajar, tentu mereka telah memahaminya. Akan tetapi, yang terjadi adalah sebaliknya. Itulah sebabnya mereka disebut dalam ayat ini orang-orang yang banyak berdusta dan banyak melakukan perbuatan dosa.

Selanjutnya diterangkan bahwa keadaan orang-orang musyrik sebelum dan sesudah mendengar ayat-ayat Alquran sama saja; tidak ada perubahan dalam sikap dan tindak-tanduk mereka, bahkan mereka bertambah ingkar dan menyombongkan diri. Itulah sebabnya dalam ayat ini mereka dikatakan seolah olah tidak pernah mendengar ayat-ayat Alquran yang disampaikan kepada mereka. Dalam ayat yang lain, diterangkan bahwa mereka sendiri mengakui tidak pernah merasa mendengar Alquran yang disampaikan kepada mereka.

Allah SWT berfirman:
وَقَالُوا قُلُوبُنَا فِي أَكِنَّةٍ مِمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ وَفِي آذَانِنَا وَقْرٌ وَمِنْ بَيْنِنَا وَبَيْنِكَ حِجَابٌ فَاعْمَلْ إِنَّنَا عَامِلُونَ
Mereka berkata: "Hati kami berada dalam tutupan (yang menutup)apa yang kamu serukannya kepada kami dan telinga kami ada sumbatan, dan antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja (pula).
(QS. Fushshilaat [41]:5)

dan firman-Nya:
وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِي ءَاذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى أُولَئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ
Dan orang-orang yang tidak beriman, pada telinga mereka ada sumbatan, sedangkan Alquran itu suatu kegelapan bagi mereka.
(QS. Fushshilaat [41]:44)

Pada akhir ayat ini, Allah SWT memerintahkan kepada Rasul-Nya menyampaikan kabar gembira kepada mereka bahwa mereka akan memperoleh azab yang pedih di neraka nanti. Dalam ayat ini, disebutkan bahwa memberitakan adanya azab yang pedih merupakan suatu berita gembira, bukan suatu berita duka. Ungkapan ini sengaja dibuat demikian untuk membalas sikap mereka yang memperolok-olokkan ayat-ayat Alquran yang disampaikan kepadanya dan untuk menunjukkan bahwa sikap mereka itu merupakan sikap yang sudah melampaui batas. Karena itu, yang dimaksud dengan kabar gembira di sini ialah lawan daripada kabar gembira itu, yaitu kabar sedih.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Kecelakaan yang besarlah) lafal Al-Wail menunjukkan kalimat azab (bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta) atau pendusta (lagi banyak berdosa) banyak dosanya.
««•»»
Woe (waylun is an expression implying chastisement) to every sinful liar,
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 6][AYAT 8]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
7of37
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=45&tAyahNo=7&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2http://al-quran.info/#45:7

[045] Al Jaatsiyah Ayat 006

««•»»
Surah Al Jaatsiyah 6

تِلْكَ آيَاتُ اللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّ فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَ اللَّهِ وَآيَاتِهِ يُؤْمِنُونَ
««•»»
tilka aayaatu allaahi natluuhaa 'alayka bialhaqqi fabi-ayyi hadiitsin ba'da allaahi waaayaatihi yu/minuuna
««•»»

Itulah ayat-ayat Allah yang Kami membacakannya kepadamu dengan sebenarnya; maka dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah (kalam) Allah dan keterangan-keterangan-Nya.
««•»»
These are the signs of Allah that We recite for you in truth. So what discourse will they believe after Allah and His signs?
««•»»

Allah SWT menyatakan kepada Rasulullah saw, bahwa ayat Alquran yang dibacakan kepadanya itu adalah ayat-ayat yang mengandung bukti, dan dalil-dalil yang kuat baik dari segi asal Alquran itu (dari Allah) maupun dari segi isi dan gaya bahasanya. Pernyataan Allah itu telah disampaikan oleh Nabi Muhammad saw kepada kaum musyrik Mekah, tetapi semuanya itu tidak dapat mereka terima, bahkan mereka bertambah ingkar kepada Rasulullah saw.

Pada waktu Alquran dibacakan kepada orang kafir Mekah, hati mereka mengakui ketinggian isi dan gaya bahasanya. Pengakuan ini langsung diucapkan Abul Walid, sastrawan kenamaan orang Arab waktu itu.

Kepada mereka diperintahkan agar memperhatikan kejadian alam semesta ini, kejadian diri mereka sendiri, air hujan yang turun dari langit yang menyirami bumi, sehingga bumi yang tandus menjadi subur, angin yang bertiup, dan sebagainya, semuanya itu dapat dijadikan bukti bahwa Allah adalah Maha Esa, Maha Kuasa lagi Maha Perkasa.

Kepada mereka pun telah diutus seorang Rasul yang akan menyampaikan agama Allah kepada seluruh manusia. Rasul itu adalah orang yang paling mereka percayai di antara mereka, orang yang mereka segani dan orang yang selalu mereka mintai nasihat dalam menyelesaikan perselisihan-perselisihan yang terjadi di antara mereka.

Rasul yang diutus itu dapat pula membuktikan bahwa ia benar-benar Rasul yang diutus Allah kepada manusia, misalnya dengan mengemukakan beberapa mukjizat yang diberikan Allah kepadanya.

Sudah banyak bukti yang dikemukakan kepada mereka, tetapi mereka tidak juga beriman. Sebenarnya, bagi orang yang mau menggunakan pikirannya, cukuplah beberapa bukti saja untuk menjadikan dia seorang yang beriman.

Itulah sebabnya maka Rasulullah saw diperintahkan oleh Allah SWT menanyakan kepada kaum musyrik Mekah tentang keterangan apalagi yang mereka minta yang dapat mengubah hati mereka sehingga menjadi beriman. Telah lengkap keterangan yang diberikan kepada mereka, tidak ada lagi dalil-dalil dan bukti-bukti yang lebih kuat dari pada yang telah dikemukakan itu.

Jika mereka tidak mau juga memahaminya dan tidak mau menerima bukti dan dalil-dalil itu, terserahlah kepada mereka sendiri. Mereka akan mengalami balasan yang setimpal akibat sikap kepala batu mereka itu.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Itulah) yakni tanda-tanda yang telah disebutkan itu (ayat-ayat Allah) maksudnya, hujah-hujah-Nya yang menunjukkan kepada keesaan-Nya (yang Kami membacakannya) yang Kami ceritakan (kepadamu dengan sebenarnya) lafal Bil haqqi ber-ta`aluq kepada lafal Natluuhaa (maka dengan perkataan mana lagi sesudah Allah) sesudah firman-Nya, yang dimaksud adalah Alquran (dan keterangan-keterangan-Nya) atau hujah-hujah-Nya (mereka beriman) orang-orang kafir Mekah itu mereka tidak beriman. Menurut suatu qiraat lafal Yu`minuuna dibaca Tu`minuuna.
««•»»
These, mentioned signs, are the signs of God, the proofs of His that indicate His Oneness, which We recite, relate, to you with truth (bi’l-haqqi is semantically connected to natlū, ‘We recite’). So in what [kind of] discourse then, after God, that is to say, [after] His discourse, namely, the Qur’ān, and His signs, His definitive arguments, will they, that is, the disbelievers of Mecca, believe? In other words: they will not believe [in anything] (a variant reading [for yu’minūna, ‘they believe’] has tu’minūna, ‘you believe’).
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 5][AYAT 7]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
6of37
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=45&tAyahNo=6&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2http://al-quran.info/#45:6

[045] Al Jaatsiyah Ayat 005

««•»»
Surah Al Jaatsiyah 5

وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ رِزْقٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ آيَاتٌ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
««•»»
waikhtilaafi allayli waalnnahaari wamaa anzala allaahu mina alssamaa-i min rizqin fa-ahyaa bihi al-ardha ba'da mawtihaa watashriifi alrriyaahi aayaatun liqawmin ya'qiluuna
««•»»
Dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.
««•»»
And in the alternation of night and day and what Allah sends down from the sky of [His] provision with which He revives the earth after its death, and in the changing of the winds there are signs for a people who apply reason.
««•»»

Dalam ayat ini, Allah SWT mengingatkan manusia akan tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan-Nya yang terdapat pada pergantian siang dan malam. Pergantian siang dan malam ini dapat dilihat dari dua segi yaitu suasana dan dari segi panjang pendeknya.

Dari segi suasananya, orang dapat menyaksikan sejak matahari terbit di kaki langit sebelah timur hingga terbenam di kaki langit sebelah barat. Di siang hari, orang tidak menyaksikan apa pun di langit, terkecuali matahari yang bersinar dengan terangnya. Pada waktu .itu, kebanyakan manusia bekerja dan berusaha mencari nafkah, memenuhi kebutuhan hidupnya.

Matahari bergerak meninggalkan ufuk sebelah timur makin lama makin meninggi. Kemudian ia terlihat di meridian. Sesudah itu, makin menurun menuju ufuk langit sebelah barat. Akhirnya ia tenggelam di ufuk sebelah barat. Sejak itu, hari berangsur-angsur gelap, kadang-kadang terlihat awan kemerah merahan, lalu mulailah bermunculan bintang-bintang satu demi satu, dari bintang yang paling terang cahayanya sampai kepada bintang yang bercahaya redup.

Setelah gelap menyelubungi permukaan bumi seluruhnya, bertambah jelaslah nampak bintang-bintang bertaburan di angkasa raya, berbagai macam rasi dan aneka warna cahayanya.

Pada penghujung malam, mulailah kelihatan fajar menyingsing di ufuk timur, sebagai tanda.tidak lama lagi matahari akan terbit kembali. Sejak itulah; cahaya bintang mulai redup kembali karena cahayanya mulai dikalahkan oleh cahaya matahari.

Begitulah seterusnya orang dapat menyaksikan keadaan itu berulang-ulang. Suasana yang seperti itu terjadi di negeri-negeri yang berada di daerah khatulistiwa, sedangkan belahan bumi bahagian selatan dan utara akan mengalami keadaan siang lebih panjang atau lebih pendek dari malam, sesuai dengan lintang dan deklinasi matahari;

Dari segi panjang pendeknya malam dan siang, orang yang berada di khatulistiwa selamanya akan menyaksikan panjang pendeknya siang malam yang hampir sama.

Daerah yang berada di selatan khatulistiwa akan mengalami siang lebih panjang apabila matahari berada di sebelah selatan, tetapi akan mengalami siang lebih pendek apabila matahari berada di sebelah utara khatlistiwa. Demikian pula orang yang berada di sebelah utara khatulistiwa akan mengalami siang yang lebih panjang apabila matahari berada di sebelah selatan.

Makin jauh suatu tempat baik ke utara maupun selatan khatulistiwa makin jauh pula perbedaan panjang pendek waktu antara malam dan siang. Bagi orang yang berada di kutub utara dan kutub selatan, dalam satu tahun ada masa malam yang terus menerus dan ada pula masa siang yang terus menerus.

Pada masa siang terus menerus matahari selalu berada di atas cakrawala, selalu kelihatan tidak pernah masuk ke bawah kaki langit, sedangkan pada masa malam terus menerus, matahari selalu berada di bawah kaki langit, tidak pernah kelihatan dan tidak pernah melewati kaki langit ke atas.

Dengan memperhatikan pergantian siang dan malam, baik suasana maupun panjang pendeknya yang selalu berubah-ubah sepanjang tahun, akan terlihat tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah, serta akan nampak adanya hukum-hukum yang mengaturnya dengan sangat rapi, tidak pernah menyimpang dari ketentuan-ketentuan yang telah ditentukan.

Kemudian Allah SWT menunjukkan tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran-Nya yang terlihat pada turunnya hujan dari langit. Karena panas matahari, airpun menguap ke atas. Angin yang selalu bertiup mempercepat proses penguapan itu dan menghalaunya ke suatu tempat dan lama-kelamaan terkumpullah uap air itu di angkasa sebagai awan.

Apabila awan yang berarak dihalau angin itu tertahan oleh gunung, maka terkumpullah ia di sana, semakin lama semakin tebal. Warnanya yang semula keputih-putihan berubah menjadi hitam. Dan apabila suhu udara telah mencapai kedinginan sedemikian rupa, turunlah uap air itu sebagai hujan yang menyirami permukaan bumi.

Karena air hujan itu tumbuhlah beraneka macam tumbuh-tumbuhan, dan karena air hujan itu pula binatng dan manusia dapat hidup. Manusia dengan hasil pemikirannya dapat mengatur aliran air itu sehingga tidak mengalir seluruhnya ke laut. Sebahagian dimanfaatkan dan sebagian lagi dapat digunakan pada musim kemarau.

Pada tiap daerah, di permukaan bumi, curah hujan tidak sama; bergantung kepada faktor faktor yang menentukan. Ada daerah yang curah hujannya sangat lebat dan ada pula yang sangat tipis dan ada yang sedang.

Dengan memperhatikan turunnya hujan itu dan manfaatnya bagi kehidupan makhluk, orang dapat mengetahui betapa luasnya kekuasaan penciptanya.

aSesudah itu Allah menunjukkan pula tanda-tanda kekuasaan-Nya yang dapat dilihat pada perkisaran tiupan angin yaitu perkisaran angin daratan angin laut yang selalu berhembus berganti arah. Telah menjadi hukum alam bahwa daratan lebih cepat menjadi panas bila ditimpa sinar matahari dibandingkan dengan lautan yang lambat menjadi panas bila ditimpa matahari.

Sebaliknya, daratan lebih cepat pula melepaskan panas di malam hari, pada waktu panas matahari tidak ada lagi dibandingkan dengan lautan yang lambat melepasnya. Dengan demikian, terdapatlah daerah maksimum dan minimum udaranya. pada siang hari daratan lebih panas dari lautan sehingga udaranya menjadi minimum, sedangkan lautan kurang panas udaranya dibandingkan dengan daratan sehingga udaranya menjadi maksimum.

Udara mengalir dari daerah maksimum ke daerah minimum, maka bertiuplah pada siang hari angin laut menuju daratan Akan tetapi, di waktu malam, terjadi kebalikannya: daratan menjadi maksimum dan lautan menjadi minumum karena daratan lebih cepat menjadi dingin daripada lautan sehingga bertiuplah angin dari daratan menuju lautan.

Keadaan yang demikian menguntungkan para nelayan. Mereka berangkat pada waktu malam, berlayar ke tengah lautan mengikuti arah hembusan angin laut. Di samping itu, perubahan letak matahari berada di lintang balik utara belahan bumi bahagian selatan.

Karena itu, udara maksimum di belahan bumi bahagian selatan. Maka bertiuplah angin dari belahan bumi selatan ke belahan bumi bagian utara. Waktu itu di Indonesia mengalami musim kemarau. Akan tetapi, bila matahari berada pada lintang balik selatan, belahan bumi bagian selatan menerima panas lebih banyak dari bagian bumi sebelah utara.

Karena itu, udara maksimum di bagian utara, maka bertiuplah angin dari utara ke selatan. Untuk Indonesia, angin bertiup dari Padang Pasir Gobi di Tiongkok, menyusur semenanjung Malaysia karena pengaruh perputaran bumi membelok ke timur, ke Indonesia, menuju Padang Pasir Victoria di Australia. Pada saat itu, di Indonesia mengalami musim hujan.

Di samping itu, terdapat angin yang bertiup dari kutub utara dan kutub selatan secara tetap. karena daerah kutub selalu mengalami udara yang lebih dingin dari pada khatulistiwa maka daerah-daerah kutub udaranya selalu maksimum. Akan tetapi karena perputaran bumi pada porosnya dari barat ke timur, maka angin yang bertiup dari kutub itu mengalami pembelokan ke barat. Itulah sebabnya angin itu di Indonesia bertiup dari tenggara. Untuk daerah-daerah kutub sendiri, bertiuplah selalu angin barat yang tetap sepanjang masa.

Dari perkisaran angin itu, orang akan mengetahui betapa Maha Bijaksana dan Maha Perkasa-Nya Allah yang menciptakan alam semesta ini.

Itulah sebabnya pada bahagian akhir surah ini, Allah SWT menegaskan bahwa tanda-tanda kekuasaan-Nya yang dapat dilihat jagat raya, pada diri manusia, pada perkisaran angin, pada turunnya hujan, dan sebagainya menjadi bukti kekuasaan-Nya bagi orang yang mempergunakan akalnya dan bagi orang yang benar-benar mau mencari kebenaran.

Dengan bermacam-macam himbauan itulah, Allah SWT menunjukkan tanda-tanda kekuasaan-Nya agar manusia meyakini ke Maha Esaan dan ke Maha Kuasaan-Nya. Dengan mengetahui semuanya itu dengan benar, niscaya bertambah mantaplah iman mereka dan bertambah pulalah gairahnya untuk memanfaatkan pengetahuannya itu bagi kemaslahatan umat manusia.

Dari keterangan di atas, dipahami pula amat banyak yang dapat dijadikan bukti bahwa Allah Maujud, Maha Kuasa dan Maha Bijaksana, asal saja orang mau mengikuti cara berpikir yang digariskan Allah dalam Alquran. hal ini juga berarti bahwa sebenarnya, semakin tinggi ilmu seseorang semakin banyak ia mempunyai bukti-bukti itu. Jika ada seorang yang berilmu yang tidak mempercayai adanya Tuhan, berarti ia belum lagi mempergunakan ilmunya itu menurut yang semestinya.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dan) pada (pergantian malam dan siang) yaitu datang dan perginya kedua waktu itu (dan rezeki yang diturunkan Allah dari langit) berupa hujan, dikatakan rezeki karena hujan itu merupakan penyebab rezeki (lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya, dan pada pertukaran angin) atau pergantiannya, terkadang bertiup ke arah selatan, terkadang bertiup ke arah utara, terkadang datang membawa udara dingin, dan terkadang datang membawa udara panas (terdapat tanda-tanda pula bagi kaum yang berakal) yaitu tanda-tanda yang menunjukkan kekuasaan dan keesaan Allah, karenanya mereka beriman.
««•»»
and, in, the alternation of night and day, their passing and their arrival, and what God sends down from the heaven [in the way] of provision, rain, for it constitutes a means of provision, with which He revives the earth after it is dead, and the circulation of the winds, its alternation between southerly and northerly, hot and cold, there are signs for a people who understand, proofs and therefore have faith.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 4][AYAT 6]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
5of37
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=45&tAyahNo=5&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2http://al-quran.info/#45:5

[045] Al Jaatsiyah Ayat 004

««•»»
Surah Al Jaatsiyah 4

وَفِي خَلْقِكُمْ وَمَا يَبُثُّ مِنْ دَابَّةٍ آيَاتٌ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
««•»»
wafii khalqikum wamaa yabutstsu min daabbatin aayaatun liqawmin yuuqinuuna
««•»»
Dan pada penciptakan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini,
««•»»
And in your creation [too], and whatever animals that He scatters abroad, there are signs for a people who have certainty.
««•»»

Di samping itu Allah menunjukkan tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Nya pada kejadian manusia sendiri dan pada penciptaan binatang yang beraneka ragam jenis dan bentuknya.

Manusia diciptakan Allah SWT dari unsur-unsur yang terdapat di dalam tanah. Berbagai zat yang terdiri dari karbohidrat, protein,. zat lemak, zat gula, berbagai macam garam, berbagai macam vitamin, zat besi, dan sebagainya terkumpul dalam tubuh manusia, melalui makanan dan minuman yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan hewan. Tumbuh-tumbuhan dan hewan itu semua berasal dari tanah.

Allah SWT berfirman:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ إِذَا أَنْتُمْ بَشَرٌ تَنْتَشِرُونَ
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya. Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak.
(QS. Ar Ruum [30]:20)

Sebagian dari zat yang dimakan manusia itu ada yang menjadi spermatozona pada diri laki-laki dan ovum pada diri perempuan. Sperma dan ovum itu bertemu, pada saat setelah terjadinya senggama antara laki-laki dan perempuan. Dengan demikian terjadilah pembuahan.

Allah SWT berfirman:
فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ (5) خُلِقَ مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ (6) يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ
(7)
Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah ia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang terpancar yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada.
(QS. At Tariq [86]:5-7)

Maka terjadilah pembuahan, dan benih itu makin lama makin besar.

Empat puluh hari kemudian, terbentuklah jaringan-jaringan yang dipenuhi pembuluh-pembuluh darah. Empat puluh hari kemudian, terlihatlah calon janin yang berbentuk seperti darah yang mengental. Kemudian setelah empat puluh hari lagi, terjadilah janin yang melekat pada dinding rahim.

Pada saat itulah, mulai terlihat tanda-tanda kehidupan dan jantung bayi itu mulai berdenyut. Denyut jantung bayi itu telah dapat didengar apabila orang menempelkan telinganya ke bahagian perut ibu yang sedang mengandung. Sejak terjadinya pembuahan dalam kandungan ibu sampai kepada terlihatnya tanda-tanda kehidupan, diperlukan waktu empat bulan. Lima bulan sepuluh hari setelah itu, lahirlah dari kandungan.

Sejak itulah bayi itu bernapas dengan paru-parunya yang telah mulai bekerja, dan sejak itu pula ia berangsur-angsur melepaskan diri dari ketergantungannya kepada orang tuanya, terutama kepada ibunya. Dia telah diberi akal, perasaan dan kemampuan bekerja sehingga dengan kemampuan yang diberikan itu, ia telah dapat melaksanakan tugas hidupnya sebagai khalifah Allah di muka bumi. Akhirnya ia menjadi tua dan meninggal dunia.

Allah SWT berfirman:
هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ يُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ثُمَّ لِتَكُونُوا شُيُوخًا وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّى مِنْ قَبْلُ وَلِتَبْلُغُوا أَجَلًا مُسَمًّى وَلَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani sesudah itu segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak kemudian (kamu dibiarkan-Nya hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan-Nya kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu, ada yang diwafatkan sebelum itu, (kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya).
(QS. Al Mu'min [40]:67)

Dengan memperhatikan proses penciptaan manusia, bagaimana sulit dan ruwetnya hukum-hukum yang berlaku dalam penciptaan itu, orang yang sadar akan mengakui kekuasaan dan keagungan Allah, Tuhan Yang Maha Esa.

Allah SWT menunjukkan juga tanda-tanda kekuasaan dan ke Agungan-Nya yang terdapat pada kejadian dan kehidupan binatang melata yang beraneka ragam, jenis, macamnya, dan cara-cara kehidupannya.

Dengan memperhatikan bentuknya, orang dapat membedakan binatang. Ada binatang yang beruas tulang belakang yang dalam Ilmu Hayat disebut "vertebrata", ada yang tidak beruas tulang belakang (invertebrata). Binatang yang beruas tulang belakang dibagi atas beberapa bagian seperti mamalia (binatang menyusui), bangsa burung (ayes), bangsa binatang melata (reptilia), bangsa binatang yang hidup di darat dan di air (amphibia), bangsa ikan (pisces).

Binatang yang tidak beruas tulang belakang dibeda-bedakan lagi menjadi heberapa bahagian seperti binatang berkuku (insektifora), binatang lunak (mollusca), hingga binatang yang bersel satu (protozoa). Tiap-tiap jenis dari macam binatang itu mempunyai hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan sendiri-sendiri yang disusun dengan rapi seperti cara hidup, makanannya, cara berkembang biak, cara mempertahankan hidup, sampai kepada keagungan dan faedahnya.

Dan hal-hal yang diterangkan itu akan menjadi iktibar dan pelajaran bagi orang-orang yang mau berpikir dan ingin mengetahui betapa Maha Tingginya Ilmu penciptanya; dengan demikian, akan memperkuat iman di hatinya.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dan pada penciptaan kalian) penciptaan masing-masing di antara kalian, yaitu mulai dari air mani, lalu berupa darah kental, kemudian segumpal daging, lalu menjadi manusia (dan) penciptaan (apa yang bertebaran) di muka bumi (berupa makhluk-makhluk yang melata) arti kata Ad-Daabbah adalah makhluk hidup yang melata di permukaan bumi, yaitu berupa manusia dan lain-lainnya (terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah dan keesaan-Nya bagi kaum yang meyakini) adanya hari berbangkit.
««•»»
And in your creation, that is to say, and in the creation of every one of you from a sperm-drop, then a blood clot, then an embryo until it becomes a human being; and, [in] the creation of, what He has scattered, [what] He has dispersed throughout the earth, of animals — [dābba denotes] whatever treads on (yadubbu) the earth of [both] human beings and other [animals] — there are signs for a people who are certain, of the Resurrection;
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 3][AYAT 5]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
4of37
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=45&tAyahNo=4&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2http://al-quran.info/#45:4

Kamis, 23 April 2015

[045] Al Jaatsiyah Ayat 003

««•»»
Surah Al Jaatsiyah 3

إِنَّ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِلْمُؤْمِنِينَ
««•»»
inna fii alssamaawaati waal-ardhi laaayaatin lilmu/miniina
««•»»
Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk orang-orang yang beriman.
««•»»
Indeed in the heavens and the earth there are signs for the faithful.
««•»»

Ayat ini menerangkan bahwa sebagai bukti Allah SWT Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, dapat dilihat pada kejadian langit dan bumi pada diri manusia dan binatang yang beraneka ragam macamnya. Ditegaskan bahwa di langit dan di bumi, banyak sekali terdapat tanda-tanda kekuasaan dan keperkasaan Allah.

Orang yang berpikiran dengan pikiran yang sederhana saja, pasti akan berkesimpulan bahwa di balik kejadian langit dan bumi beserta semua yang ada di antaranya, tentu ada zat yang Maha Pencipta lagi Maha Kuasa. Apalagi orang yang tinggi ilmunya, tentu lebih dapat memahaminya lagi.

Dengan pemikiran sederhana, orang dapat mengetahui bahwa di langit terdapat bintang-bintang yang tidak terhitung jumlahnya. Di antara bintang-bintang itu terdapat matahari dan bulan.

Dengan mudah pula, orang dapat mengetahui bahwa setiap hari, matahari memancarkan sinarnya dan sinarnya itu amat berguna bagi hidup dan kehidupan manusia dan kehidupan makhluk yang lain. Kemudian, setelah tenggelam dan hilang di ufuk barat, terlihatlah bintang-bintang bertaburan menghiasi angkasa di waktu malam.

Di antara bintang-bintang itu, terdapat bulan yang bercahaya. Dengan melihat perubahan-perubahan bentuk bulan, orang dapat mengetahui perubahan dan pertukaran waktu, cahaya bulan itu sendiri berfaedah bagi tanaman yang sedang berbuah. Bumi sebagai tempat berpijak, juga tempat bercocok tanam.

Di dalam bumi, terdapat bahan-bahan keperluan hidup manusia seperti air, barang-barang tambang dan sebagainya.

Dengan pemikiran yang agak tinggi, orang dapat mengetahui keajaiban-keajaiban yang lebih mengagumkan tentang adanya hukum yang mengatur dengan rapi alam semesta ini.

Dengan penelitian-penelitian tertentu, orang dapat mengetahui bahwa langit yang kelihatan biru pada siang hari itu, bukanlah biru dalam arti yang sebenarnya, dan bukan pula asli dari langit, akan tetapi itu adalah suatu berkas saja dari cahaya matahari.

Karena cahaya itu mempunyai gelombang-gelombang pendek dan mempunyai getaran yang lebih kuat dibandingkan dengan berkas berkas cahaya yang lain, maka pada siang hari cahaya birulah yang dapat ditangkap oleh kemampuan indra manusia, lalu manusia mengira bahwa cahaya langit itu biru.

Tetapi pada saat-saat matahari terbit dan terbenam, cahaya yang berasal dari matahari telah banyak kehilangan unsur-unsurnya yang bergelombang pendek sebelum sampai kepada mata yang melihatnya. Oleh karena itu, cahaya yang kelihatan adalah kuning kemerah-merahan atau mendekati merah.

Dengan memperhatikan cahaya bintang-bintang yang bertaburan, orang mendapat pelajaran yang berharga dalam menentukan derajat panas dari tiap-tiap bintang itu.

Bintang yang bercahaya kemerah-merahan mempunyai panas yang paling rendah, sedangkan bintang yang berwarna putih kebiru-biruan mempunyai derajat yang paling tinggi. Dari rasi-rasi (gugusan) bintang, orang dapat menentukan arah dan mengetahui posisi atau letak sesuatu di permukaan bumi, baik di darat, di laut, maupun di udara. Sebagai petunjuk arah, orang dapat mengambil rasi pari sebagai petunjuk arah selatan dan rasi biduk sebagai petunjuk arah utara.

Demikian pula, dengan memperhatikan kedudukan matahari di antara bintang-bintang, orang dapat mengambil kesimpulan bahwa yang menyebabkan terjadinya siang dan malam itu bukanlah matahari yang melintasi bumi seperti diduga orang semula, akan tetapi perputaran bumi pada porosnyalah yang menyebabkan seolah-olah matahari mengelilingi bumi walaupun matahari itu beredar pada garis edarnya sendiri.

Dengan memperhatikan buah yang jatuh di permukaan bumi, orang dapat mengetahui adanya daya tarik bumi. Atas dasar pengetahuan inilah, orang menyusun hukum gaya tarik menarik yang berbanding lurus dengan masanya, tetapi berbanding terbalik dengan jaraknya.

Semuanya itu menunjukkan bahwa mencengangkan para cerdik cendekiawan. Hanya sedikit saja dari hukum-hukum itu yang telah diketahui orang masih banyak yang belum diketahui.

Makin tinggi tingkat pengetahuan seseorang, makin banyak pula terasa olehnya ilmu yang telah diketahuinya, semakin jauh pula terasa olehnya jalan yang harus ditempuhnya dalam menemukan sebagian kecil dari ilmu Tuhan yang tidak terhingga luasnya itu.

Allah SWT Maha Luas ilmu-Nya dan Maha Mengetahui segala sesuatu. Apakah bukti yang demikian itu belum cukup banyak bagi seseorang untuk meyakini adanya Allah, Maha Pencipta Yang Maha Agung, Maha, Bijaksana lagi Maha Perkasa?

Pada akhir ayat ini, Allah SWT menjelaskan bahwa tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada di langit dan di bumi itu menjadi tanda dan bukti wujud dan kekuasaan Allah bagi Orang-orang yang beriman.

Dengan memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada di langit dan di bumi itu, orang yang berjiwa bersih, berpikiran sehat yang ingin mencari kebenaran dan tidak dipengaruhi oleh godaan setan tentulah akan menjadi orang yang menerima kenyataan bahwa Alquran yang diturunkan kepada Muhammad saw itu benar benar wahyu dari Allah yang harus dilaksanakan oleh setiap manusia yang ingin hidup berbahagia di dunia dan di akhirat nanti.

Sebaliknya, jiwa seseorang yang dikotori oleh noda-noda kemaksiatan pikiran yang telah dibelenggu oleh kepercayaan syirik telah tergoda oleh tipu daya setan, maka bagaimana pun jelas dan cerahnya tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah, mereka tidak akan dapat mengindrainya, tidak dapat merasakan dan menghayatinya, karena itu, mereka tetap bergelimang dalam kekafiran dan kemaksiatan.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Sesungguhnya pada langit dan bumi) pada penciptaan keduanya (benar-benar terdapat tanda-tanda) yang menunjukkan kepada kekuasaan dan keesaan Allah swt. (bagi orang-orang yang beriman.)
««•»»
Truly in the heavens and the earth, that is to say, in their creation, there are signs, indicating the power of God and His Oneness, exalted be He, for believers.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 2][AYAT 4]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
3of37
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=45&tAyahNo=3&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2http://al-quran.info/#45:3

[045] Al Jaatsiyah Ayat 002

««•»»
Surah Al Jaatsiyah 2

تَنزيلُ الكِتابِ مِنَ اللَّهِ العَزيزِ الحَكيمِ
««•»»
tanziilu alkitaabi mina allaahi al'aziizi alhakiimi
««•»»
Kitab (ini) diturunkan dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

««•»»
The [gradual] sending down of the Book is from Allah, the All-mighty, All-wise.
««•»»

Ha, mim, termasuk huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan beberapa surah Alquran. Ada dua hal yang perlu dibicarakan tentang huruf-huruf abjad yang disebutkan pada permulaan beberapa surah dari Alquranul Karim itu, yaitu apa yang dimaksud dengan huruf ini, dan apa hikmahnya menyebutkan huruf-huruf ini?

Tentang soal pertama, maka para mufassir berlainan pendapat, yaitu:

  • Ada yang menyerahkan saja kepada Allah, dengan arti mereka tidak mau menafsirkan huruf-huruf itu. Mereka berkata, "Allah sajalah yang mengetahui maksudnya." Mereka menggolongkan huruf-huruf itu ke dalam golongan ayat-ayat mutasyabihat.
  • Ada yang menafsirkannya. Mufassirin yang menafsirkannya ini berlain-lain pula pendapat mereka, yaitu:
  1. Ada yang berpendapat bahwa huruf-huruf itu adalah isyarat (keringkasan dari kata-kata), umpamanya Alif Lam Mim. Maka "Alif" adalah keringkasan dari "Allah", "Lam" keringkasan dari "Jibril", dan "Mim" keringkasan dari Muhammad, yang berarti bahwa Alquran itu datangnya dari Allah, disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad. Pada Alif Lam Ra; "Alif" keringkasan dari "Ana", "Lam" keringkasan dari "Allah" dan "Ra" keringkasan dari "Ar-Rahman", yang berarti: Saya Allah Yang Maha Pemurah.
  2. Ada yang berpendapat bahwa huruf-huruf itu adalah nama dari surah yang dimulai dengan huruf-huruf itu.
  3. Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan huruf-huruf abjad ini adalah huruf-huruf abjad itu sendiri. Maka yang dimaksud dengan "Alif" adalah "Alif", yang dimaksud dengan "Lam" adalah "Lam", yang dimaksud dengan "Mim" adalah "Mim", dan begitu seterusnya.
  4. Huruf-huruf abjad itu untuk menarik perhatian.
Menurut para mufassir ini, huruf-huruf abjad itu disebut Allah pada permulaan beberapa surah dari Alquranul Karim, hikmahnya adalah untuk "menantang". Tantangan itu bunyinya kira-kira begini: Alquran itu diturunkan dalam bahasa Arab, yaitu bahasa kamu sendiri, yang tersusun dari huruf-huruf abjad, seperti Alif Lam Mim Ra, Ka Ha Ya Ain Shad, Qaf, Tha Sin dan lain-lainnya. Maka kalau kamu sekalian tidak percaya bahwa Alquran ini datangnya dari Allah dan kamu mendakwakan datangnya dari Muhammad, yakni dibuat oleh Muhammad sendiri, maka cobalah kamu buat ayat-ayat yang seperti ayat Alquran ini. Kalau Muhammad dapat membuatnya tentu kamu juga dapat membuatnya."

Maka ada "penantang", yaitu Allah, dan ada "yang ditantang", yaitu bahasa Arab, dan ada "alat penantang", yaitu Alquran. Sekalipun mereka adalah orang-orang yang fasih berbahasa Arab, dan mengetahui pula seluk-beluk bahasa Arab itu menurut naluri mereka, karena di antara mereka itu adalah pujangga-pujangga, penyair-penyair dan ahli-ahli pidato, namun demikian mereka tidak bisa menjawab tantangan Alquran itu dengan membuat ayat-ayat seperti Alquran. Ada juga di antara mereka yang memberanikan diri untuk menjawab tantangan Alquran itu, dengan mencoba membuat kalimat-kalimat seperti ayat-ayat Alquran itu, tetapi sebelum mereka ditertawakan oleh orang-orang Arab itu, lebih dahulu mereka telah ditertawakan oleh diri mereka sendiri.

Para mufassir dari golongan ini, yakni yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu disebut oleh Allah pada permulaan beberapa surah dari Alquran untuk menantang bangsa Arab itu, mereka sampai kepada pendapat itu adalah dengan "istiqra" artinya menyelidiki masing-masing surah yang dimulai dengan huruf-huruf abjad itu. Dengan penyelidikan itu mereka mendapat fakta-fakta sebagai berikut:

  1. Surah-surah yang dimulai dengan huruf-huruf abjad ini adalah surah-surah Makiyah (diturunkan di Mekah), selain dari dua buah surah saja yang Madaniyah (diturunkan di Madinah), yaitu surah Al-Baqarah yang dimulai dengan Alif Lam Mim dan surah Ali Imran yang dimulai dengan Alif Lam Mim juga. Sedang penduduk Mekah itulah yang tidak percaya bahwa Alquran itu adalah dari Tuhan, dan mereka mendakwakan bahwa Alquran itu buatan Muhammad semata-mata.
  2. Sesudah menyebutkan huruf-huruf abjad itu ditegaskan bahwa Alquran itu diturunkan dari Allah, atau diwahyukan oleh-Nya. Penegasan itu disebutkan oleh Allah secara langsung atau tidak langsung. Hanya ada 9 surah yang dimulai dengan huruf-huruf abjad itu yang tidak disebutkan sesudahnya penegasan bahwa Alquran itu diturunkan dari Allah.
  3. Huruf-huruf abjad yang disebutkan itu adalah huruf-huruf abjad yang banyak terpakai dalam bahasa Arab.
Dari ketiga fakta yang didapat dari penyelidikan itu, mereka menyimpulkan bahwa huruf-huruf abjad itu didatangkan oleh Allah pada permulaan beberapa surah dari Alquranul Karim itu adalah untuk "menantang" bangsa Arab agar membuat ayat-ayat seperti ayat-ayat Alquran itu, bila mereka tidak percaya bahwa Alquran itu, datangnya dari Allah dan mendakwakan bahwa Alquran itu buatan Muhammad semata-mata sebagai yang disebutkan di atas. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa para mufassir yang mengatakan bahwa huruf-huruf abjad ini didatangkan Allah untuk "tahaddi" (menantang) adalah memakai tariqah (metode) ilmiah, yaitu "menyelidiki dari contoh-contoh, lalu menyimpulkan daripadanya yang umum". Tariqah ini disebut "Ath-Thariqat Al-Istiqra'iyah" (metode induksi).

Ada mufassir yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad ini didatangkan oleh Allah pada permulaan beberapa surah-surah Alquranul Karim untuk menarik perhatian. Memulai pembicaraan dengan huruf-huruf abjad adalah suatu cara yang belum dikenal oleh bangsa Arab di waktu itu, karena itu maka hal ini menarik perhatian mereka.

Tinjauan terhadap pendapat-pendapat ini:

PERTAMA

Pendapat yang pertama yaitu menyerahkan saja kepada Allah karena Allah sajalah yang mengetahui, tidak diterima oleh kebanyakan mufassirin ahli-ahli tahqiq (yang menyelidiki secara mendalam).
(Lihat Tafsir Al-Qasimi j.2, hal. 32)


Alasan-alasan mereka ialah:

  1. Allah sendiri telah berfirman dalam Alquran: بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ Artinya: Dengan bahasa Arab yang jelas. (QS. As Syu'ara' [26]:195). Maksudnya Alquran itu dibawa oleh Jibril kepada Muhammad dalam bahasa Arab yang jelas. Dari ayat ini dapat dipahami bahwa ayat-ayat dalam Alquran itu adalah "jelas", tak ada yang tidak jelas, yang tak dapat dipahami atau dipikirkan, yang hanya Allah saja yang mengetahuinya.
  2. Di dalam Alquran ada ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Alquran itu menjadi petunjuk bagi manusia. Di antaranya firman Allah: ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ Artinya: Kitab Alquran ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (QS. Al-Baqarah [2]:2); Firman-Nya lagi: وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ Artinya: "....dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman." (QS. Al Baqarah [2]:97). Firman-Nya lagi: هَذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِلْمُتَّقِينَ Artinya: (Alquran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Ali Imran [3]:138). Dan banyak lagi ayat-ayat yang menerangkan bahwa Alquran itu adalah petunjuk bagi manusia. Sesuatu yang fungsinya menjadi "petunjuk" tentu harus jelas dan dapat dipahami. Hal-hal yang tidak jelas tentu tidak dijadikan petunjuk.
  3. Dalam ayat yang lain Allah berfirman pula: وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ Artinya: Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Alquran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? (QS. Al-Qamar [54]:17,22,32, dan 40)
KE·DUA
  1. Pendapat yang menafsirkan bahwa huruf-huruf abjad itu adalah keringkasan dari suatu kalimat. Pendapat ini juga banyak para mufassir yang tidak dapat menerimanya. Keberatan mereka ialah: tidak ada kaidah-kaidah atau patokan-patokan yang tertentu untuk ini, sebab itu para mufassir yang berpendapat demikian berlain-lainan pendapatnya dalam menentukan kalimat-kalimat itu. Maka di samping pendapat mereka bahwa Alif Lam Mim artinya ialah: Allah, Jibril, Muhammad, ada pula yang mengartikan "Allah, Latifun, Maujud" (Allah Maha Halus lagi Ada). (Dr. Mahmud Syaltut, Tafsir al Qur'anul Karim, hal. 73)
  2. Pendapat yang menafsirkan bahwa huruf-huruf abjad yang terdapat pada permulaan beberapa surah ini adalah nama surah, juga banyak pula para mufassir yang tidak dapat menerimanya. Alasan mereka ialah: bahwa surah-surah yang dimulai dengan huruf-huruf itu kebanyakannya adalah mempunyai nama yang lain, dan nama yang lain itulah yang terpakai. Umpamanya surah Al-Baqarah, Ali Imran, Maryam dan lain-lain. Maka kalau betul huruf-huruf itu adalah nama surah, tentu nama-nama itulah yang akan dipakai oleh para sahabat Rasulullah dan kaum muslimin sejak dari dahulu sampai sekarang. Hanya ada empat buah surah yang sampai sekarang tetap dinamai dengan huruf-huruf abjad yang terdapat pada permulaan surah-surah itu, yaitu: Surah Thaha, surah Yasin, surah Shad dan surah Qaf. (Dr. Mahmud Syaltut, Tafsir al Qur'anul Karim, hal. 73)
  3. Pendapat yang menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan huruf-huruf abjad itu sendiri, dan abjad-abjad ini didatangkan oleh Allah ialah untuk "menantang" (tahaddi). Inilah yang dipegang oleh sebahagian mufassirin ahli tahqiq. (Di antaranya: Az Zamakhsyari, Al Baidawi, Ibnu Taimiah, dan Hafizh Al Mizzi, lihat Rasyid Rida, Tafsir Al Manar jilid 8, hal. 303 dan Dr Shubhi As Salih, Mabahis Ulumi Qur'an, hal 235. Menurut An Nasafi: pendapat bahwa huruf abjad ini adalah untuk menantang patut diterima. Lihat Tafsir An Nasafi, hal. 9)
  4. Pendapat yang menafsirkan bahwa huruf-huruf abjad ini adalah untuk "menarik perhatian" (tanbih) pendapat ini juga diterima oleh ahli tahqiq. (Tafsir Al Manar jilid 8 hal. 209-303).
Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa "yang dimaksud dengan huruf-huruf abjad yang disebutkan oleh Allah pada permulaan beberapa surat dari Alquran hikmahnya adalah untuk "menantang" bangsa Arab serta menghadapkan perhatian manusia kepada ayat-ayat yang akan dibacakan oleh Nabi Muhammad saw."

Kemudian Allah SWT Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana menjelaskan bahwa Kitab Alquran yang sempurna itu diturunkan kepada Rasul-Nya, Muhammad saw.

Disebutkan sifat Allah "Maha Perkasa" dalam ayat ini agar tergambar dalam pikiran orang-orang yang membacanya atau mendengarnya, bahwa yang menurunkan kitab Alquran itu ialah Zat yang mempunyai kekuasaan yang tidak terbatas, tidak dapat ditandingi dan tidak dapat dibantah kehendak-Nya.

Keinginan dan kehendak-Nya pasti terlaksana sesuai dengan rencana-Nya, tidak ada kekuasaan yang lain yang mampu menghalang-halangi dan mengubahnya.


Demikian pula ditonjolkan sifat "Maha Bijaksana" dalam ayat ini agar terpaham, bahwa dalam melaksanakan kehendak dan kekuasaan-Nya itu.

Dia melaksanakan keadilan yang merata pada setiap makhluk-Nya. Dia bertindak, menciptakan dan melaksanakan sesuatu sesuai dengan guna dan faedahnya Kebijaksanaan ini dapat disaksikan pada seluruh tindakan dan semua makhluk yang diciptakan-Nya, dari tingkat yang paling sederhana sampai ke tingkat yang paling sempurna.

Pada tumbuh-tumbuhan, binatang, manusia, dan susunan serta ketentuan-ketentuan yang berlaku pada tata surya, orang dapat mengetahui bahwa pada tiap-tiap makhluk Allah itu ada hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan yang tidak dapat dilanggar; semuanya harus tunduk dan patuh baik secara sadar maupun tidak sadar.

Tidak ada suatu makhluk pun yang dapat melanggar dan menyalahi hukum dan ketentuan yang telah ditetapkan Allah baginya. Setiap pelanggaran dan pengingkaran akan mengakibatkan kerusakan, penyakit, bahkan kehancuran kematian bagi yang melanggarnya.


Apabila orang mau menggunakan pikirannya yang jernih dan sehat tentu akan mengakui kekuasaan dan kebijaksanaan Allah terhadap semua makhluk-Nya. Dan apabila ia telah yakin akan hal itu, tentu ia akan menerima dan mengamalkan Alquran sebagai wahyu dan petunjuk Allah.

Hal ini juga berarti bahwa diturunkannya Alquran kepada Nabi Muhammad saw dalam bahasa Arab, disampaikan untuk pertama kalinya kepada orang-orang Quraisy, kemudian baru tersebar ke seluruh penjuru dunia, ada hikmahnya sesuai dengan guna dan faedahnya Hikmah, guna dan faedahnya itu diketahui manusia dengan perantaraan Alquran sendiri, ada yang diketahui berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang dipunyai oleh seseorang, dan ada yang belum diketahui oleh manusia, karena Yang Maha Tahu hanyalah Allah SWT.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Diturunkannya Kitab ini) yakni Alquran; lafal ayat ini berkedudukan menjadi Mubtada (dari Allah) menjadi Khabar dari Mubtada (Yang Maha Perkasa) di dalam kerajaan-Nya (lagi Maha Bijaksana) di dalam perbuatan-Nya.
««•»»
The revelation of the Book, the Qur’ān (tanzīlu’l-kitābi, the subject) is from God (mina’Llāhi, the predicate thereof) the Mighty, in His kingdom, the Wise, in His actions.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 1][AYAT 3]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
2of37
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=45&tAyahNo=2&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#45:2